Tulisan ini harus jujur.. harus tahu akan membicarakan apa…
mungkin tentang tanya, atau perdebatan dinding-dinding.
Entah bagaimana lika-likunya. katanya muncul bak pahlawan.
dulu, kemarin, hingga hari-hari kemarin.
ia berbicara soal luka. berbicara tentang cinta. tapi keduanya berwarna biru. Ia (mungkin) tidak bahagia.
apalagi yang bisa aku katakan selain maaf dan terimakasih.
teruntuk kata yang magis.
yang aku cari sesuka hati.
yang aku cari seduka hati.
katanya terangkai menjadi satu cerita.
tentang hidupnya.
yang menemukan bunga dan bangkai sekaligus. aku.
Entah isyarat apa yang aku tangkap… Aku melihat tanda masa berulang..
Saat-saat aku akan kembali dibiarkan tergopoh-gopoh memohon…
Ada apa?
Ada apa?
Jika kalimat itu yang kau ucapkan, harusnya kalimat itupula yang menahanmu untuk berbalik…
Duhai, bulan..
Aku pikir kehilangan sesuatu yang berharga bukan lagi hukuman mematikan..
Kukira akan menjadi hal yang biasa.. Karena aku terbiasa kehilangan.. Terbiasa disingkirkan…
Kini, saat hujan hanya turun untuk lembah.. dan matahari hanya membagi sinar pada sebuah dimensi, kau lagi-lagi mengatakan hal yang sama…
Tepat ketika aku membumbungkan mimpi-mimpi…
anak panah melesat terlalu cepat.. Tepat di titik bidik…
memotong nadi pelan-pelan.. darah mengaliri mata, bibir, dan hidung…
seketika keringat tidak lagi terasa asin..
seketika airmata menjadi tawar…
Seharusnya tak kau ucapkan kalimat itu.. tidak pula memutuskan untuk berbalik…
karena selendang hitam menutupi kepalaku.. mulai saat itu.. saat kalimat itu terucap (lagi)
“these violent delights have violent ends
and in their triumph die, like fire and powder”I’ve got a soft spot for this film, very much adore the work of Baz Luhrmann.
(Source: quentintarantinos)